Beranda » Perbankan » Rasio Kredit Macet KPR Naik di 2025, BTN dan BCA Siapkan Strategi Mitigasi Risiko

Rasio Kredit Macet KPR Naik di 2025, BTN dan BCA Siapkan Strategi Mitigasi Risiko

Rasio macet atau non-performing loan (NPL) kredit di Indonesia tercatat naik secara tahunan pada akhir 2025. Bank Indonesia mencatat NPL kredit properti berada di level 3,08% pada Desember 2025, meningkat dari posisi 2,67% pada periode yang sama tahun 2024.

Kenaikan ini turut tercermin di dua bank besar. Tbk (BTN) mencatatkan NPL properti sebesar 3,5% di 2025, naik dari 3,3% pada 2024. Sementara PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat NPL sebesar 1,54%, naik sekitar 0,18 poin secara tahunan meski masih di bawah rata-rata industri.

Simak penjelasan lengkap dari desakarangbendo.id berikut ini mengenai kondisi NPL KPR terkini serta yang disiapkan perbankan.

Secara lebih rinci, NPL KPR subsidi BTN justru membaik ke 1,4% dari 1,7% pada 2024. Namun NPL masih naik ke 5,3% dari 3,7% secara tahunan. Tekanan terbesar berasal dari segmen kredit yang mencapai 16,4% di 2025.

Berikut perbandingan data NPL KPR kedua bank:

Indikator 2024 Des 2025 Tren YoY
NPL Kredit Properti (BI) 2,67% 3,08% Naik
NPL Properti BTN 3,3% 3,5% Naik
NPL KPR Subsidi BTN 1,7% 1,4% Turun
NPL KPR Non-Subsidi BTN 3,7% 5,3% Naik
NPL KPR BCA ~1,36% 1,54% Naik

Data berdasarkan laporan keuangan masing-masing bank per Desember 2025 dan dapat berubah sesuai revisi resmi perseroan.

Direktur Manajemen Risiko BTN Setiyo Wibowo mengakui kenaikan NPL properti masih terjadi akibat pelemahan ekonomi makro, khususnya pada segmen menengah bawah.

“Tahun ini sih harusnya sudah mulai membaik kondisinya,” kata Setiyo kepada Kontan, Jumat (13/2).

BTN telah menyiapkan langkah strategis berupa automasi proses kredit berbasis data analytics dan AI, penajaman collection management berbasis segmentasi risiko, serta penguatan monitoring portofolio secara end-to-end.

Sementara itu, EVP Consumer Loan BCA Welly Yandoko menyebut tekanan daya beli dan dinamika ekonomi turut memengaruhi kualitas kredit . BCA merespons dengan penguatan sistem KYC, early warning system, serta monitoring intensif terhadap debitur berisiko.

Pengamat perbankan Moch Amin Nurdin menilai kenaikan NPL KPR terutama dipicu efek lag dari periode tinggi. Debitur KPR dengan skema bunga floating mulai merasakan kenaikan cicilan penuh setelah masa fixed rate berakhir, ditambah tekanan daya beli kelas menengah akibat inflasi biaya hidup.

Ke depan, risiko kenaikan NPL KPR dinilai masih ada namun potensi lonjakan tajam diperkirakan terbatas. Hal ini ditopang oleh pengetatan seleksi kredit, penurunan loan at risk (LAR), serta tingkat pencadangan yang relatif kuat.

“Jika suku bunga mulai stabil atau turun, tekanan terhadap kualitas kredit KPR berpotensi lebih terkendali, khususnya pada semester II tahun ini,” sambung Amin.***

Sumber: https://keuangan.kontan.co.id/news/rasio-kredit-macet-kpr-meningkat-bank-siapkan-strategi-mitigasi-risiko

Erna Agnesa
Reporter at Desa Karangbendo

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.