Kota Malang kini menjadi sorotan setelah disebut sebagai kota yang paling banyak menghasilkan freelancer dan pekerja IT full-stack di Indonesia. Pernyataan tersebut dilontarkan oleh entrepreneur dan investor Theo Derick dalam podcast RaymondChins yang dikutip pada Jumat (16/1/2026).
Theo secara tegas menyebut Malang sebagai pusat talenta IT yang bekerja lintas daerah hingga lintas negara, sebuah fenomena yang menurutnya sudah menjadi realitas ekonomi digital saat ini.
Simak penjelasan lengkap dari desakarangbendo.id berikut ini tentang mengapa Malang layak disebut sebagai gudangnya freelancer IT Indonesia.
Kutipan Langsung Theo Derick soal Malang sebagai Pusat Talenta IT
“Kota yang paling memproduksi freelancer dan full-timer IT, full-stack tertinggi adalah Malang,” ucap Theo Derick dalam perbincangan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan dengan nada tegas.
“Malang, iya. Malang,” kata Theo menegaskan.
Lebih lanjut, Theo menjelaskan bahwa banyak pekerja IT di Malang mengerjakan proyek dari luar daerah bahkan luar negeri. Kondisi ini menjadikan pekerjaan mereka sebagai semacam “side hustle” untuk ekosistem ekonomi di luar Malang, meski dikerjakan dari kota ini.
“Oh iya. Itu kan berarti mereka aja jadi side hustle buat daerah lain, gitu maksud gue,” lanjutnya.
Gambaran Pola Kerja Freelancer IT dari Kafe Tiga Lantai
Theo juga menggambarkan bagaimana pola kerja para talenta IT di Malang jauh dari bayangan kantor konvensional.
“Kerjanya di mana (para freelancer dan IT)? Ruko gitu? Enggak, ada satu coffee shop, tiga lantai. Itu semuanya IT developer semua,” ujarnya.
Fenomena coffee shop tiga lantai yang dipenuhi IT developer ini bukan hal asing di Kota Malang. Banyak freelancer dan pekerja remote memilih bekerja dari kafe atau co-working space sambil menggarap proyek berskala global.
Faktor Pendukung, Perguruan Tinggi dan Biaya Hidup Rendah
Pernyataan Theo bukan tanpa dasar. Malang selama ini dikenal sebagai kota pendidikan dengan puluhan perguruan tinggi yang menghasilkan lulusan di bidang teknologi informasi setiap tahunnya.
Berikut sejumlah kampus utama penghasil talenta IT di Malang:
| Perguruan Tinggi | Program Studi IT Unggulan |
|---|---|
| Universitas Brawijaya (UB) | Teknik Informatika, Sistem Informasi |
| Universitas Negeri Malang (UM) | Teknik Informatika, Pendidikan Teknologi Informasi |
| Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) | Teknik Informatika, Teknik Elektro |
| Politeknik Negeri Malang (Polinema) | Teknik Informatika, Manajemen Informatika |
Setiap tahun, ribuan lulusan dari bidang teknologi informasi, teknik, dan sistem informasi lahir dari kampus-kampus tersebut.
Di sisi lain, biaya hidup di Malang yang relatif lebih rendah dibandingkan Jakarta atau Surabaya turut menjadi faktor pendukung. Berikut gambaran perbandingan biaya hidup bulanan di tiga kota tersebut berdasarkan estimasi umum:
| Komponen Biaya | Jakarta | Surabaya | Malang |
|---|---|---|---|
| Kos/Sewa Kamar | Rp1,5 – 3 juta | Rp1 – 2 juta | Rp700rb – 1,5 juta |
| Makan per Hari | Rp50 – 80rb | Rp40 – 60rb | Rp30 – 50rb |
| Nongkrong di Kafe | Rp40 – 70rb | Rp30 – 50rb | Rp20 – 40rb |
Data di atas merupakan estimasi umum dan dapat bervariasi tergantung gaya hidup masing-masing individu.
Kondisi biaya hidup yang terjangkau ini menjadikan Malang tempat ideal bagi freelancer dan pekerja remote untuk tinggal sambil mengerjakan proyek berskala nasional hingga internasional.
Kawasan Kantong Pekerja Digital di Malang
Sejumlah kawasan di Malang dikenal sebagai “kantong” pekerja digital yang hidup berdampingan dengan budaya nongkrong khas kota pelajar.
Kawasan Lowokwaru yang berdekatan dengan kampus Universitas Brawijaya menjadi salah satu pusat aktivitas freelancer IT. Selain itu, wilayah Klojen di pusat kota dan Sukun juga dikenal memiliki banyak kafe dan co-working space yang menjadi “kantor” bagi para pekerja digital.
Fenomena coffee shop tiga lantai yang dipenuhi IT developer, seperti yang disinggung Theo, menjadi pemandangan yang cukup lumrah di kawasan-kawasan tersebut.
Realitas Ekonomi Digital dan Penyerapan Tenaga Kerja
Bagi Theo, tingginya jumlah freelancer dan pekerja IT di Malang juga menunjukkan realitas bahwa lapangan kerja formal di sektor teknologi belum sepenuhnya mampu menyerap talenta lokal.
Namun alih-alih melihatnya sebagai masalah, Theo justru menilai kondisi ini sebagai kekuatan yang harus diterima dan diperjuangkan.
“Jadi ya memang realitanya tidak ada jalan lain selain itu. Ya mari terima dan fight for it loh,” ucapnya.
Menurut Theo, kondisi ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan gambaran realitas ekonomi digital saat ini. Terutama bagi kota-kota yang memiliki sumber daya manusia kuat namun industri lokal yang terbatas, jalur freelance dan remote work menjadi solusi yang tidak bisa dihindari.
Profil Singkat Theo Derick
Theo Derick dikenal sebagai entrepreneur, investor, content creator, sekaligus public speaker asal Indonesia.
Namanya mulai dikenal luas sejak 2021 lewat konten edukasi finansial dan mindset realistis di TikTok dan Instagram. Pandangannya kerap menyoroti realitas ekonomi, dunia kerja, dan strategi bertahan di era digital.
Pernyataannya soal Malang sebagai kota penghasil freelancer IT terbanyak ini kembali membuktikan bahwa kota-kota di luar Jakarta memiliki potensi besar dalam ekosistem ekonomi digital Indonesia.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.






