Penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia ke level 4,75% seharusnya menjadi angin segar bagi para debitur. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa bunga kredit perbankan masih enggan bergerak turun secara signifikan.
Kondisi ini terjadi karena perbankan masih terbebani oleh biaya dana atau cost of fund (CoF) yang relatif tinggi. Biaya ini menjadi komponen utama yang menentukan seberapa besar bunga yang harus dibebankan kepada peminjam sebelum ditambah dengan margin keuntungan.
Mengapa Bunga Kredit Sulit Turun?
Fenomena ini tidak terjadi tanpa alasan, mengingat struktur pendanaan bank sangat bergantung pada instrumen deposito yang memiliki tenor tertentu. Ketika suku bunga acuan turun, bank tidak bisa serta-merta menurunkan bunga kredit karena mereka masih terikat dengan bunga deposito tinggi yang sudah dijanjikan kepada nasabah sebelumnya.
Terdapat jeda waktu atau lag yang biasanya berlangsung antara 6 hingga 12 bulan sebelum penyesuaian bunga kredit benar-benar terasa di pasar. Selama masa tunggu tersebut, bank harus melakukan repricing atau penyesuaian ulang struktur pendanaan mereka secara bertahap agar margin keuntungan tetap terjaga.
Faktor Utama Penghambat Penurunan Bunga
- Efek Jeda Waktu (Lag Effect): Penyesuaian bunga kredit memerlukan waktu karena bank harus menunggu jatuh tempo deposito berbunga tinggi sebelum bisa menggantinya dengan instrumen pendanaan yang lebih murah.
- Risiko Ekonomi dan Geopolitik: Ketidakpastian global dan tensi geopolitik meningkatkan risiko gagal bayar, sehingga bank harus memasukkan premi risiko ke dalam perhitungan bunga kredit.
- Kompetisi Penghimpunan Dana: Persaingan antarbank yang ketat dalam memperebutkan dana pihak ketiga memaksa bank tetap mempertahankan bunga deposito yang kompetitif agar nasabah tidak berpindah.
- Daya Beli Masyarakat: Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat segmen UMKM memiliki risiko kredit lebih tinggi, yang secara otomatis menahan bank untuk menurunkan bunga secara agresif.
Perbandingan Biaya Dana Perbankan
Data menunjukkan bahwa setiap bank memiliki profil biaya dana yang berbeda-beda tergantung pada komposisi pendanaan mereka. Beberapa bank besar mencatatkan fluktuasi biaya dana yang cukup variatif selama periode 2024 hingga 2025.
| Nama Bank | Biaya Dana 2024 | Biaya Dana 2025 | Tren |
|---|---|---|---|
| Bank Mandiri | 2,16% | 2,33% | Meningkat |
| BNI | 2,69% | 2,73% | Meningkat |
| BRI | 3,00% | 2,90% | Menurun |
| CIMB Niaga | 3,58% | 3,28% | Menurun |
Tabel di atas menggambarkan bahwa meskipun ada bank yang berhasil menekan biaya dana, beberapa bank besar justru mengalami kenaikan biaya dana dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menegaskan bahwa strategi pengelolaan likuiditas sangat menentukan kemampuan bank dalam merespons kebijakan suku bunga acuan.
Strategi Perbankan Menghadapi Tekanan CoF
Untuk menyeimbangkan antara pertumbuhan kredit dan margin keuntungan, perbankan kini lebih selektif dalam mengelola pendanaan. Fokus utama mereka adalah memperbesar porsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) yang memiliki biaya bunga jauh lebih rendah dibandingkan deposito.
Selain itu, bank juga mulai melakukan penyesuaian bunga secara bertahap pada skema floating rate untuk kredit yang sudah berjalan. Langkah ini diambil agar perbankan tetap bisa menyalurkan kredit dengan bunga yang kompetitif tanpa harus mengorbankan stabilitas keuangan internal mereka.
Langkah Strategis Perbankan Tahun 2026
- Optimalisasi Dana Murah: Mendorong pertumbuhan CASA melalui peningkatan layanan digital dan kemudahan transaksi bagi nasabah.
- Repricing Dana Selektif: Melakukan penyesuaian bunga deposito secara bertahap mengikuti pergerakan suku bunga acuan dan kondisi likuiditas pasar.
- Menjaga Keseimbangan Margin: Memastikan Net Interest Income (NII) tetap terjaga dengan mengelola selisih antara bunga simpanan dan bunga kredit secara lebih efisien.
- Penyesuaian Suku Bunga Kredit: Memberikan penawaran bunga kompetitif untuk nasabah baru, terutama pada sektor-sektor strategis seperti KPR, sambil tetap memantau kondisi makroekonomi.
Ke depan, pergerakan suku bunga kredit akan sangat bergantung pada stabilitas pasar obligasi dan kondisi likuiditas domestik. Selama tekanan global masih membayangi, perbankan diperkirakan akan tetap berhati-hati dalam menurunkan bunga kredit agar tidak mengganggu kesehatan neraca keuangan mereka.
Disclaimer: Data yang disajikan dalam artikel ini didasarkan pada laporan terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kebijakan moneter Bank Indonesia serta kondisi ekonomi global. Keputusan finansial yang diambil oleh pihak mana pun berdasarkan informasi ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pihak.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.





