Beranda » Teknologi » 45% Konsumen Gunakan AI Saat Belanja Ramadan 2026!

45% Konsumen Gunakan AI Saat Belanja Ramadan 2026!

Tren belanja menjelang 2026 terus mengalami perubahan, terutama dalam cara konsumen berinteraksi dengan teknologi. Studi terbaru dari IBM dan National Retail Federation (NRF) menunjukkan bahwa 45% konsumen global kini menggunakan kecerdasan buatan (AI) sebagai bagian dari proses belanja mereka. Angka ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi teknologi opsional, melainkan alat penting dalam pengambilan keputusan pembelian.

Meskipun 72% konsumen masih memilih belanja langsung di toko fisik, keberadaan AI memberikan signifikan pada cara belanja dilakukan. Mulai dari riset produk hingga mencari promo terbaik, AI membantu konsumen menjadi lebih efisien dan terarah. Perubahan ini menciptakan ekspektasi baru terhadap pengalaman belanja secara keseluruhan, baik daring maupun luring.

Peran AI dalam Perjalanan Belanja Konsumen

AI kini menjadi bagian integral dari proses belanja modern. Penggunaannya tidak hanya terbatas pada rekomendasi produk, tetapi juga membantu konsumen memahami informasi lebih dalam sebelum memutuskan pembelian.

1. Riset Produk Lebih Cepat dan Akurat

Sebanyak 41% konsumen menggunakan AI untuk riset produk. Dengan bantuan teknologi ini, mereka bisa membandingkan spesifikasi, harga, dan fitur dari berbagai merek hanya dalam hitungan detik. Hal ini sangat membantu saat membeli produk elektronik, fashion, atau kebutuhan menjelang lebaran.

2. Menganalisis Ulasan Konsumen Lain

Tidak semua ulasan mudah dipahami. AI membantu menerjemahkan dan menganalisis ratusan bahkan ribuan ulasan menjadi ringkasan yang mudah dicerna. Sekitar 33% konsumen menggunakan fitur ini untuk memastikan produk yang mereka beli sesuai ekspektasi.

3. Menemukan Promo dan Diskon Terbaik

Dengan semakin banyaknya platform belanja dan penawaran yang bermunculan menjelang Ramadan, 31% konsumen memanfaatkan AI untuk mencari promo terbaik. Teknologi ini bisa memantau harga secara real-time dan memberi notifikasi jika ada penawaran menarik.

Perubahan Ekspektasi Konsumen terhadap Toko Fisik

Meski belanja online terus naik, toko fisik tetap menjadi pilihan utama bagi sebagian besar konsumen. Namun, ekspektasi terhadap pengalaman belanja di lapak konvensional kini semakin tinggi. Konsumen datang dengan tujuan yang lebih jelas dan ingin dilayani dengan cepat serta nyaman.

Baca Juga:  Bocoran Honor 600 Lite: Desain Elegan, Kamera 108MP, dan Spesifikasi Lengkapnya

1. Desain Toko yang Menarik dan Bebas Antre

Sebanyak 35% konsumen menginginkan toko yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga bebas dari antrean panjang. Mereka mengharapkan sistem pembayaran cepat, layout toko yang intuitif, dan pelayanan yang minim gesekan.

2. Super App sebagai Solusi Terpadu

33% konsumen menginginkan satu yang mengintegrasikan semua kebutuhan belanja, pembayaran, dan layanan pasca beli. Super App ini diharapkan bisa menjadi pusat kontrol untuk semua belanja.

3. Ekosistem Smart Home dan Personal Shopper AI

Sebanyak 30% konsumen tertarik dengan integrasi smart home dan personal shopper berbasis AI. Mereka ingin teknologi yang bisa memprediksi kebutuhan dan memberikan rekomendasi secara otomatis, bahkan sebelum sadar membutuhkannya.

4. Pembelian via Media Sosial

29% konsumen menginginkan kemudahan belanja langsung dari media sosial. Dengan integrasi fitur belanja di platform seperti atau TikTok, proses pembelian bisa dilakukan tanpa harus pindah aplikasi.

Potensi AI dalam Ritel Indonesia

Indonesia menjadi salah satu pasar paling strategis untuk transformasi AI di sektor ritel. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan penetrasi internet yang tinggi, potensi pertumbuhan sangat besar.

Data Penting Perkembangan E-Commerce di Indonesia

Kriteria Nilai
Kontribusi terhadap total volume ASEAN 52%
Nilai pasar e-commerce 2023 USD 52,93 miliar
Proyeksi nilai pasar 2028 USD 86,81 miliar
Kontribusi sektor perdagangan terhadap PDB 12,96%

Dengan pertumbuhan yang konsisten, Indonesia menjadi laboratorium ideal bagi pelaku ritel untuk menguji strategi berbasis AI. Kebutuhan konsumen yang semakin kompleks memaksa industri untuk terus berinovasi dan mengadopsi .

Pernyataan dari Pihak Industri

Juvanus Tjandra, Managing Director IBM Indonesia, menyatakan bahwa AI bukan lagi sekadar alat untuk . Ia menekankan bahwa AI adalah fondasi untuk membangun hubungan yang lebih personal dan aman dengan konsumen digital.

"Pelaku ritel yang mengintegrasikan AI dalam strategi data dan customer experience akan menentukan era pertumbuhan berikutnya."

Pernyataan ini menunjukkan bahwa AI bukan hanya tren sesaat, tetapi bagian dari transformasi jangka panjang dalam industri ritel.

Baca Juga:  Hindari 5 Kebiasaan Buruk Saat Memakai TWS Agar Pendengaran Tetap Aman Sepanjang 2026

Tantangan dan Peluang ke Depan

Meski potensi AI sangat besar, adopsi teknologi ini di Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan. Infrastruktur digital yang belum merata, literasi teknologi yang rendah di sejumlah daerah, dan regulasi yang belum sepenuhnya mendukung, menjadi penghambat utama.

Namun, tantangan ini juga membuka peluang bagi pelaku industri untuk berinovasi. Dengan pendekatan yang tepat, AI bisa menjadi alat untuk menjembatani kesenjangan antara konsumen urban dan rural, serta meningkatkan inklusi digital secara keseluruhan.

Kesimpulan

Ramadan 2026 akan menjadi titik penting dalam evolusi belanja digital di Indonesia. Dengan 45% konsumen menggunakan AI, pelaku ritel harus siap beradaptasi dan mengintegrasikan teknologi ini dalam strategi mereka. Baik itu melalui aplikasi terintegrasi, personalisasi pengalaman belanja, atau pemanfaatan data untuk memberikan rekomendasi yang lebih tepat sasaran.

Penggunaan AI bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga tentang membangun hubungan yang lebih personal dan bermakna dengan konsumen. Di tengah persaingan yang semakin ketat, pelaku ritel yang mampu memahami dan menerapkan AI secara strategis akan menjadi pemenang di .

Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan riset yang tersedia hingga Maret 2025. Nilai pasar dan persentase penggunaan teknologi bisa berubah seiring perkembangan tren dan kondisi ekonomi.

Nurkasmini Nikmawati
Reporter at Desa Karangbendo

Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.