Di balik setiap inovasi besar Apple, ada sosok yang bekerja di balik layar. Bukan cuma jago pemasaran atau strategi bisnis, tapi insinyur sejati yang paham betul detail teknis hingga pengalaman pengguna. Salah satunya adalah John Ternus, sosok yang punya andil besar dalam evolusi iPad selama beberapa tahun terakhir.
Perannya sebagai Senior Vice President of Hardware Engineering menjadikannya ujung tombak dalam pengambilan keputusan teknis yang radikal. Bukan sekadar mengikuti tren, Ternus justru membentuk tren itu sendiri. Dari transisi port hingga integrasi chip kelas desktop, semua dilakukan dengan tujuan jelas: menjadikan iPad bukan sekadar tablet, tapi alat produktivitas yang serius.
Transformasi iPad di Era Ternus
iPad dulu dikenal sebagai perangkat untuk hiburan. Tapi sejak John Ternus mulai ambil alih kendali teknis, perlahan tapi pasti, perangkat ini mulai bertransformasi. Ia membawa visi baru yang menjadikan iPad sebagai alat kerja yang bisa diandalkan, bahkan oleh para profesional.
Perubahan yang ia bawa bukan sekadar soal tampilan. Ia mengubah fondasi perangkat tersebut, dari port hingga kekuatan prosesornya. Semua demi menjawab kebutuhan pengguna yang semakin kompleks dan menuntut performa tinggi dalam bentuk yang tetap portabel.
1. Penghapusan Lightning dan Adopsi USB-C
Langkah pertama yang kontroversial tapi berdampak besar adalah transisi dari Lightning ke USB-C. Ternus dikenal sebagai salah satu pendukung keras penghapusan port lama itu, terutama pada iPad Pro dan iPad Air.
Keputusan ini bukan cuma soal keseragaman. Ini adalah langkah strategis agar iPad bisa lebih mudah terhubung dengan ekosistem perangkat lain, terutama untuk kebutuhan produktivitas. Dengan USB-C, pengguna bisa langsung menghubungkan monitor eksternal, keyboard, hingga perangkat penyimpanan tanpa perlu adaptor tambahan.
| Fitur | Lightning | USB-C |
|---|---|---|
| Kecepatan transfer data | Hingga 480 Mbps (USB 2.0) | Hingga 10 Gbps (USB 3.2) |
| Daya output | Terbatas | Hingga 100W |
| Kompatibilitas | Eksklusif Apple | Universal |
| Dukungan video | Terbatas | Hingga 6K |
2. Integrasi Chip M-Series: Dari Tablet ke Komputer Mini
Langkah berikutnya yang lebih mengejutkan adalah penggunaan chip M-Series—yang biasa ditemukan di MacBook dan iMac—ke dalam bodi iPad. Ternus memimpin langsung proses ini, memastikan bahwa chip seperti M1, M2, hingga M4 bisa berjalan optimal di perangkat seukuran tablet.
Hasilnya? iPad bukan lagi sekadar alat untuk nonton video atau membaca e-book. Ia berubah menjadi mesin produktivitas yang bisa menjalankan aplikasi berat macam Final Cut Pro, Logic Pro, hingga aplikasi desain profesional lainnya.
| Chip | Generasi | Performa CPU dibanding A12Z Bionic | Performa GPU dibanding A12Z Bionic |
|---|---|---|---|
| M1 | 2021 | +50% | +40% |
| M2 | 2022 | +70% | +60% |
| M4 | 2024 | +100% | +90% |
3. Filosofi Desain: Lebih Tipis, Tapi Tetap Kuat
Ternus punya filosofi desain yang unik: “Thinner and Stronger.” Ia percaya bahwa perangkat bisa dibuat lebih tipis tanpa mengorbankan daya tahan atau performa. Contoh nyatanya adalah iPad Pro M4 yang menjadi produk Apple paling tipis yang pernah dibuat.
Desainnya bukan sekadar untuk estetika. Ini juga soal efisiensi ruang internal agar semua komponen bisa bekerja optimal dalam bodi yang lebih ramping. Teknologi material canggih seperti titanium dan pengaturan thermal yang cerdas jadi kunci di balik pencapaian ini.
4. Posisi Kamera Depan yang Lebih Fungsional
Salah satu perubahan kecil tapi berdampak besar adalah pemindahan kamera depan ke sisi landscape. Ini bukan sekadar soal estetika atau tampilan. Ternus memahami bahwa pengguna iPad semakin banyak yang menggunakan perangkat ini dalam mode laptop, terutama saat dipasangkan dengan Magic Keyboard.
Dengan posisi kamera yang baru, video call jadi lebih alami dan tidak terlihat “anjungan” lagi. Ini adalah contoh bagaimana keputusan teknis bisa meningkatkan pengalaman pengguna secara langsung.
John Ternus dan Masa Depan Apple
Peran Ternus di Apple terus meningkat. Banyak pihak yang mulai melihatnya sebagai salah satu kandidat potensial untuk menggantikan Tim Cook di masa depan. Bukan karena popularitas publik, tapi karena pengaruhnya dalam pengambilan keputusan teknis yang strategis.
Gaya kepemimpinannya yang tenang namun tegas membuatnya dihormati oleh tim internal. Ia bukan tipe eksekutif yang banyak bicara di depan publik, tapi setiap produk yang dirilis di bawah arahannya selalu membawa jejak tangan teknisnya yang kuat.
Karakteristik Kepemimpinan Ternus
- Fokus pada detail teknis
- Berani mengambil risiko besar demi pengalaman pengguna
- Mendorong inovasi tanpa mengabaikan keandalan produk
- Bekerja di balik layar, bukan mencari sorotan
Kesimpulan
John Ternus bukanlah nama yang sering terdengar di iklan Apple atau acara keynote. Tapi tanpa diragukan lagi, jejak kerjanya sangat terasa di setiap produk Apple yang dirilis belakangan ini, terutama iPad. Dari USB-C hingga chip M-Series, semuanya adalah hasil dari visi teknis yang ia bawa.
Dengan pendekatan yang fokus pada pengguna dan keberanian untuk mengubah status quo, Ternus terus membuktikan bahwa ia bukan hanya insinyur hebat, tapi juga pemimpin masa depan yang potensial.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kebijakan internal Apple. Data spesifikasi dan fitur dapat berbeda berdasarkan wilayah dan versi perangkat.
Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.

