Beranda » Pinjaman Online » Kerugian Pinjol dan Investasi Bodong Tembus Ratusan Triliun, Doktor UI Ungkap Penyebab Psikologisnya

Kerugian Pinjol dan Investasi Bodong Tembus Ratusan Triliun, Doktor UI Ungkap Penyebab Psikologisnya

Akumulasi kerugian akibat ilegal dan investasi bodong di Indonesia telah menembus ratusan triliun rupiah. Angka tersebut terus bertambah seiring masih banyaknya masyarakat yang terjebak dalam praktik keuangan berisiko tinggi.

Merespons krisis ini, Miriam Rustam mengangkat topik pinjaman online dan investasi bodong dalam Sidang Promosi Doktor di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (FPsi UI). Melalui risetnya, ia menelusuri faktor psikologis yang mendorong seseorang tetap nekat mengambil keputusan keuangan berisiko, meskipun potensi bahayanya sudah terlihat jelas.

Simak penjelasan lengkap dari desakarangbendo.id berikut ini mengenai temuan penting di balik perilaku keuangan berisiko tersebut.

Profil Riset dan Disertasi Miriam Rustam di FPsi UI

Miriam menuangkan temuannya dalam disertasi berjudul Peran Paralel Emosi Antisipatif dan Emosi yang Diantisipasi dalam Perilaku Keuangan Berisiko dengan Tingkat Konstrual Sebagai Moderator.

Melansir dari laman resmi Fakultas Psikologi UI, penelitian ini melibatkan lebih dari 900 responden. Melalui serangkaian studi, Miriam menemukan bahwa dua tipe emosi bekerja secara bersamaan saat individu menghadapi pilihan keuangan berisiko.

Temuan inilah yang kemudian melahirkan sebuah kerangka konseptual baru bernama Kerangka Emosi Integral Paralel atau disingkat KEIP.

Konsep KEIP dan Dua Mekanisme Emosi

KEIP menjelaskan bagaimana dinamika emosi dapat membuat individu tetap nekat mengambil , meski tanda-tanda sudah tampak di depan mata.

Dalam kerangka ini, dua tipe emosi bekerja secara paralel saat seseorang mempertimbangkan keputusan keuangan berisiko.

1. Emosi Antisipatif

Emosi antisipatif adalah perasaan yang muncul secara langsung saat mempertimbangkan sebuah pilihan. Contohnya, antusiasme seketika yang dirasakan saat melihat tawaran keuntungan besar dari investasi atau kemudahan pencairan pinjaman online.

2. Emosi yang Diantisipasi

Tipe kedua adalah emosi yang diantisipasi, yaitu seseorang mengenai perasaannya di masa depan setelah hasil keputusan terjadi. Misalnya, membayangkan kebahagiaan atau kelegaan saat investasi berhasil memberikan imbal hasil besar.

Berikut perbandingan dua mekanisme emosi dalam KEIP:

Aspek Emosi Antisipatif Emosi yang Diantisipasi
Waktu Muncul Saat mempertimbangkan pilihan Prediksi perasaan setelah hasil terjadi
Sifat Spontan dan langsung Imajinatif dan proyektif
Contoh Antusiasme saat melihat tawaran keuntungan Membayangkan kebahagiaan saat investasi berhasil
Dampak Mendorong keputusan impulsif Memperkuat keyakinan mengambil risiko

Kombinasi kedua emosi ini bekerja secara simultan dan saling menguatkan, sehingga individu cenderung mengabaikan potensi kerugian.

Pengaruh Framing Informasi terhadap Keputusan Keuangan

Temuan Miriam juga mengungkap bahwa motivasi mengambil risiko keuangan meningkat signifikan saat informasi disajikan secara abstrak dan dibingkai dalam konteks keuntungan.

Dalam kondisi ini, pertahanan psikologis individu melemah karena fokus hanya tertuju pada bayangan kesuksesan. Risiko kegagalan, skema pembayaran, hingga konsekuensi tidak lagi menjadi pertimbangan utama.

“Ketika informasi disajikan secara abstrak dan dalam bingkai keuntungan, individu cenderung hanya fokus pada potensi keberhasilan tanpa mempertimbangkan risiko secara menyeluruh,” demikian temuan yang disampaikan dalam sidang promosi doktor tersebut, sebagaimana dikutip dari laman FPsi UI.

Pola inilah yang banyak dimanfaatkan oleh pelaku pinjaman online ilegal dan pengelola investasi bodong. Tawaran bunga rendah, imbal hasil fantastis, atau pencairan dana instan merupakan bentuk framing yang menargetkan sisi emosional calon korban.

Rekomendasi Pengelolaan Emosi dan Penyajian Informasi Konkret

Berdasarkan temuan studinya, Miriam merekomendasikan agar pendekatan edukasi literasi keuangan di Indonesia tidak hanya berfokus pada pemahaman , tetapi juga pada pengelolaan emosi.

1. Pengelolaan Emosi

Masyarakat perlu dilatih untuk mengenali dan menyadari dorongan emosi instan yang muncul saat menerima tawaran keuangan. Kemampuan ini menjadi pertahanan pertama sebelum mengambil keputusan berisiko.

2. Penyajian Informasi Konkret

Informasi yang diberikan saat menawarkan produk pinjaman online maupun investasi harus bersifat menyeluruh dan konkret. Artinya, risiko kerugian, skema pembayaran, bunga riil, hingga konsekuensi gagal bayar wajib disampaikan secara transparan.

Kedua rekomendasi ini menekankan bahwa literasi keuangan yang efektif bukan sekadar soal angka, melainkan juga soal memahami dinamika emosi dalam pengambilan keputusan.

Implikasi untuk Kebijakan Literasi Keuangan

Temuan Miriam Rustam memberikan perspektif baru bagi pemangku kebijakan, khususnya Otoritas Keuangan (OJK), , dan lembaga terkait dalam menyusun strategi edukasi keuangan.

Pendekatan literasi keuangan yang selama ini bersifat kognitif perlu dilengkapi dengan pemahaman aspek emosional. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya memahami produk keuangan secara teknis, tetapi juga mampu mengelola dorongan emosi saat menghadapi tawaran yang tampak menggiurkan.

Studi ini juga menjadi pengingat bahwa regulasi terhadap penyajian informasi produk keuangan perlu diperketat, terutama dalam hal transparansi risiko agar tidak memanfaatkan bias psikologis calon konsumen.

Sumber: https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-8354529/doktor-ui-ungkap-alasan-orang-suka-ambil-pinjol-dan-investasi-bodong

Erna Agnesa
Reporter at Desa Karangbendo

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.