Generasi milenial dan Gen Z kerap kali merasa mudah mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Baik itu karena pengaruh media sosial, tekanan ekonomi, atau sekadar keinginan instan untuk merasa lebih baik, fenomena ini punya istilah keren tapi nggak terlalu asyik namanya: doom spending. Istilah ini muncul karena kebiasaan belanja impulsif yang dilakukan sebagai bentuk pelarian dari stres, tapi malah bisa bikin masalah baru di kemudian hari.
Banyak dari kita yang sadar sedang terjebak dalam pola pengeluaran yang nggak terkendali. Tapi karena efek instan dari belanja, rasanya sulit untuk berhenti. Padahal, dampaknya bisa berlarut-lama, terutama di masa depan saat butuh dana darurat atau ingin mencapai target finansial tertentu. Yuk, kita kupas lebih dalam soal doom spending, kenapa ini bisa terjadi, dan bagaimana cara mengendalikannya.
Apa Itu Doom Spending?
Doom spending adalah kebiasaan belanja impulsif yang dilakukan sebagai respons emosional terhadap stres, kecemasan, atau ketidakpastian masa depan. Tujuannya bukan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan untuk mencari kepuasan sesaat. Biasanya, ini dilakukan saat seseorang merasa down dan mencari cara cepat untuk "mengobati" perasaan tersebut lewat pembelian barang atau layanan yang tidak direncanakan.
Fenomena ini sangat umum terjadi di kalangan milenial dan Gen Z. Survei dari Psychology Today menunjukkan bahwa 43% milenial dan 34% Gen Z pernah melakukan doom spending. Angka ini cukup signifikan, terlebih jika dikaitkan dengan rendahnya kebiasaan menabung di kalangan usia produktif.
Faktor-Faktor yang Memicu Doom Spending
Beberapa faktor memicu perilaku ini, mulai dari lingkungan digital hingga kondisi psikologis seseorang. Media sosial, misalnya, sering menampilkan gaya hidup mewah yang memancing rasa ingin ikut serta. Selain itu, promosi besar-besaran dari e-commerce dan budaya FOMO (Fear of Missing Out) juga turut memperkuat dorongan untuk membeli barang secara impulsif.
| Faktor | Penjelasan |
|---|---|
| Media Sosial | Menampilkan gaya hidup konsumtif yang memicu keinginan untuk ikut membeli |
| Diskon dan Promo | Memberikan ilusi bahwa belanja sedang “menguntungkan”, meski barang tidak dibutuhkan |
| Stres Finansial | Memicu keinginan untuk mencari pelarian melalui pengeluaran impulsif |
| FOMO | Takut ketinggalan tren atau penawaran menarik |
Dampak Doom Spending yang Perlu Diwaspadai
Meskipun terdengar seperti solusi sementara, doom spending justru bisa membawa dampak negatif yang luas—baik secara finansial maupun psikologis. Banyak orang yang akhirnya merasa lebih stres setelah belanja impulsif, terutama jika ternyata pengeluaran itu melebihi kemampuan finansial mereka.
1. Pengeluaran Tak Terkendali
Salah satu dampak langsung dari doom spending adalah lonjakan pengeluaran yang tidak direncanakan. Ini bisa membuat tabungan tergerus bahkan sampai menimbulkan utang kecil yang menumpuk. Apalagi jika dilakukan secara rutin, dampaknya bisa terasa di akhir bulan atau bahkan akhir tahun.
2. Gangguan Emosional Pasca-Belanja
Ironisnya, belanja yang dimaksudkan sebagai pelarian justru bisa memicu rasa bersalah dan menyesal. Setelah emosi tenang, banyak orang menyadari bahwa barang yang dibeli tidak memberikan manfaat jangka panjang. Malah, stres baru muncul karena kondisi keuangan yang makin terpuruk.
3. Kesulitan Menabung
Data dari Katadata Insight Center menunjukkan bahwa 49% Gen Z Indonesia mengalami kesulitan menabung secara konsisten. Ini menunjukkan bahwa kebiasaan doom spending sudah mulai mengganggu kebiasaan finansial sehat, seperti menabung dan investasi jangka panjang.
Cara Mengatasi Doom Spending
Untungnya, meskipun terlihat sulit, perilaku ini bisa diatasi dengan beberapa langkah sederhana. Yang penting adalah kesadaran diri dan komitmen untuk mengubah pola pikir serta kebiasaan sehari-hari.
1. Bedakan Antara Kebutuhan dan Keinginan
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mulai mempertanyakan motif pembelian. Sebelum membeli sesuatu, tanyakan: "Apakah ini benar-benar dibutuhkan?" Jika jawabannya ragu-ragu, lebih baik tunda dulu. Gunakan teknik 24 Hours Rule—tunggu 24 jam sebelum membeli barang yang tidak mendesak.
2. Buat Anggaran Bulanan
Anggaran adalah alat penting untuk mengontrol pengeluaran. Buat daftar prioritas pengeluaran, seperti kebutuhan pokok, cicilan, dan tabungan. Idealnya, total pengeluaran rutin tidak melebihi 70% dari pendapatan. Sisanya bisa dialokasikan untuk belanja fleksibel, tapi tetap harus dalam batas wajar.
Contoh Alokasi Anggaran Bulanan (Berdasarkan Pendapatan Rp5 Juta)
| Kategori | Persentase | Nominal |
|---|---|---|
| Kebutuhan Pokok (makan, transport, listrik, dll.) | 50% | Rp2.500.000 |
| Tabungan & Investasi | 20% | Rp1.000.000 |
| Gaya Hidup & Belanja Fleksibel | 20% | Rp1.000.000 |
| Cadangan Darurat atau Cicilan | 10% | Rp500.000 |
3. Alihkan Kebiasaan Impulsif
Ganti kebiasaan belanja impulsif dengan aktivitas yang lebih produktif dan menyehatkan mental. Olahraga ringan, meditasi, membaca, atau menulis jurnal bisa menjadi alternatif pelarian yang lebih sehat. Ini juga bisa membantu mengurangi stres tanpa harus mengeluarkan uang.
4. Batasi Paparan Trigger
Kurangi waktu di media sosial atau hapus aplikasi belanja dari ponsel jika dirasa terlalu menggoda. Gunakan fitur parental control atau aplikasi manajemen waktu untuk membatasi durasi penggunaan gadget. Semakin sedikit paparan terhadap iklan dan konten konsumtif, semakin kecil pula godaan untuk belanja impulsif.
5. Bangun Mindset Finansial Sehat
Mulailah membangun mindset bahwa uang bukan hanya untuk dinikmati hari ini, tapi juga untuk masa depan. Edukasi diri tentang manajemen keuangan, investasi, dan pentingnya dana darurat bisa mengubah cara pandang terhadap pengeluaran. Semakin sadar kita terhadap nilai uang, semakin terkendali pula keputusan finansial kita.
Kesimpulan
Doom spending memang terdengar seperti solusi cepat untuk menghilangkan stres, tapi dampaknya bisa sangat merugikan dalam jangka panjang. Terutama bagi generasi muda yang sedang membangun fondasi keuangan, kebiasaan ini bisa menghambat pencapaian tujuan finansial.
Yang penting adalah mulai dari langkah kecil: evaluasi pengeluaran, buat anggaran, dan ubah kebiasaan yang kurang produktif. Dengan kesadaran dan disiplin, kita bisa mengendalikan keinginan impulsif dan membangun masa depan finansial yang lebih stabil.
Disclaimer: Data dan statistik dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan sumber terpercaya dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangan situasi ekonomi dan perilaku konsumen.
Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.
