Beranda » Perbankan » DBS Foundation Cairkan Dana Rp11,2 Miliar untuk Lima Entitas Sosial dan Bisnis Berpengaruh Positif

DBS Foundation Cairkan Dana Rp11,2 Miliar untuk Lima Entitas Sosial dan Bisnis Berpengaruh Positif

Di tengah dinamika sosial dan ekonomi yang terus berubah, kebutuhan akan model bisnis yang tidak hanya menguntungkan tapi juga menciptakan positif semakin mendesak. Kondisi ini mendorong lahirnya berbagai inisiatif dari sektor swasta, salah satunya melalui program hibah yang dijalankan oleh DBS Foundation. Sebagai bagian dari komitmen berkelanjutannya, lembaga ini kembali menyalurkan dana hibah senilai SGD 850.000 atau sekitar Rp11,2 miliar untuk lima dan bisnis berdampak sosial di Indonesia.

Penyaluran dana ini merupakan bagian dari program DBS Foundation Grant 2025 yang lebih luas, dengan total alokasi dana SGD4,9 juta atau sekitar Rp65 miliar untuk 22 organisasi di Asia. Di Tanah Air, penerima manfaat ini diproyeksikan mampu menjangkau lebih dari 1,9 juta individu, terutama yang berada di wilayah underserved. Penerima hibah antara lain Parongpong RAW Lab, KONEKIN, Nazava Water Filters, DoctorTool, dan Sosial Business Indonesia (SOBI).

Dukungan untuk Ekosistem Kewirausahaan Sosial

Komitmen DBS Foundation terhadap pengembangan ekosistem sosial bukan hal baru. Sejak 2014, program hibah ini telah memberikan dukungan kepada ratusan social enterprise dan bisnis berdampak sosial di Asia. Fokus utama program ini adalah pada isu-isu strategis seperti akses air bersih, ketahanan pangan, inklusi , hingga ketenagakerjaan inklusif.

Yang membedakan program ini dari hibah konvensional adalah pendekatannya yang holistik. Selain pendanaan, penerima juga mendapat pendampingan serta akses ke jejaring strategis yang membantu mereka tumbuh secara berkelanjutan. Pendekatan ini sejalan dengan visi Bank DBS sebagai purpose-driven bank yang ingin tumbuh bersama komunitas.

1. Identifikasi dan Seleksi Penerima Hibah

Proses seleksi penerima hibah dilakukan secara ketat dengan melibatkan berbagai kriteria, termasuk potensi dampak sosial, keberlanjutan model bisnis, serta kapasitas organisasi dalam mengelola dana. Penerima dipilih berdasarkan inovasi solusi yang mereka tawarkan serta kemampuan untuk menjangkau komunitas yang selama ini kurang terlayani.

2. Penyaluran Dana dan Pendampingan

Setelah terpilih, setiap organisasi akan menerima pendanaan tahap awal sebagai modal . Selanjutnya, mereka juga akan mendapat pendampingan teknis dari tim DBS Foundation dan mitra strategis. Pendampingan ini mencakup aspek manajemen keuangan, pemasaran, serta pengembangan kapasitas organisasi.

Baca Juga:  Induk Usaha Ganti Struktur Pengurus, Susunan Dewan Komisaris Adira Finance (ADMF) Diprediksi Akan Bertransformasi

3. Evaluasi dan Pelaporan Dampak

Setiap penerima hibah wajib melakukan pelaporan berkala mengenai penggunaan dana dan pencapaian dampak sosial. Evaluasi ini dilakukan secara transparan untuk memastikan bahwa dana digunakan secara efektif dan efisien.

Lima Penerima Hibah DBS Foundation 2025

Kelima penerima hibah ini dipilih karena masing-masing memiliki pendekatan unik dalam menyelesaikan tantangan sosial di berbagai sektor. Berikut adalah profil singkat mereka:

Parongpong RAW Lab

Organisasi ini berfokus pada pengembangan produk pertanian berbasis teknologi untuk petani kecil di daerah pegunungan. Mereka mengembangkan alat pengolahan hasil pertanian yang ramah lingkungan dan mudah digunakan oleh masyarakat pedesaan.

KONEKIN

KONEKIN hadir sebagai platform yang menghubungkan komunitas inklusif dengan pelaku usaha kecil menengah (UKM). Mereka memfasilitasi akses pasar, pelatihan, dan pendanaan bagi pelaku usaha marginal agar bisa tumbuh secara mandiri.

Nazava Water Filters

Perusahaan ini menyediakan solusi akses air bersih melalui filter air portabel yang ramah lingkungan. Produk mereka telah menjangkau ribuan rumah tangga di daerah terpencil dan membantu mengurangi angka penyakit akibat air tidak layak konsumsi.

DoctorTool

Sebagai bagian dari inisiatif kesehatan, DoctorTool mengembangkan platform yang membantu tenaga kesehatan di daerah terpencil dalam mendiagnosis dan merawat pasien secara lebih efektif. Platform ini juga menyediakan akses ke basis data medis dan pelatihan online.

Sosial Business Indonesia (SOBI)

SOBI berfokus pada pengembangan model bisnis sosial yang berkelanjutan di berbagai sektor. Mereka membantu komunitas lokal mengembangkan usaha kecil yang tidak hanya menghasilkan pendapatan tapi juga menciptakan dampak sosial positif.

Perkembangan Ekosistem Kewirausahaan Sosial di Indonesia

Pertumbuhan kewirausahaan sosial di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), jumlah wirausaha sosial di Tanah Air mencapai sekitar 20.000 pada 2023, naik dari 15.000 di tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa semakin banyak pelaku usaha yang menjadikan dampak sosial sebagai bagian dari model bisnis mereka.

Baca Juga:  Kolaborasi Strategis Maybank Indonesia dan Allianz Syariah Hadirkan 3 Solusi Keuangan 2026

Tabel: Perkembangan Jumlah Wirausaha Sosial di Indonesia

Tahun Jumlah Wirausaha Sosial
2021 12.000
2022 15.000
2023 20.000

Peningkatan jumlah ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk dari sektor swasta seperti Bank DBS. Dengan memberikan hibah dan pendampingan, DBS Foundation membantu memperkuat fondasi organisasi-organisasi ini agar bisa tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan.

Peran Swasta dalam Menggerakkan Dampak Sosial

Inisiatif seperti DBS Foundation Grant Program menunjukkan bahwa perusahaan swasta kini semakin aktif dalam mengambil peran sosial. Bukan hanya melalui corporate social responsibility () tradisional, tapi juga melalui pendekatan yang lebih strategis dan berkelanjutan.

1. Membangun Ekosistem Kolaboratif

Program ini tidak hanya soal memberi dana, tapi juga tentang membangun ekosistem kolaboratif. Dengan melibatkan berbagai pihak seperti komunitas, institusi, dan pemerintah, diharapkan solusi yang dihasilkan bisa lebih komprehensif dan berkelanjutan.

2. Mendorong Inovasi Berbasis Dampak

Melalui pendanaan dan pendampingan, inovasi-inovasi lokal yang berbasis dampak sosial bisa berkembang lebih cepat. Ini penting untuk menyelesaikan berbagai masalah kompleks yang ada di masyarakat, terutama di daerah terpencil.

3. Meningkatkan Kapasitas Organisasi Sosial

Selain dana, pemberian pendampingan teknis dan akses ke jejaring strategis sangat membantu organisasi sosial dalam meningkatkan kapasitas operasional mereka. Ini penting agar mereka bisa bertahan dan tumbuh dalam jangka panjang.

Disclaimer

dan jumlah hibah yang disebutkan dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan data yang tersedia pada Maret . Nilai aktual bisa berubah tergantung pada fluktuasi nilai tukar dan kebijakan internal DBS Foundation. Data jumlah wirausaha sosial juga bersumber dari laporan tahunan Bekraf dan dapat berubah seiring waktu.

Nurkasmini Nikmawati
Reporter at Desa Karangbendo

Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.