Pameran Internationale Tourismus-Börse (ITB) Berlin 2026 menjadi ajang penting bagi Desa Bakti BCA untuk memperkenalkan potensi pariwisata Indonesia ke pasar global. Tiga desa wisata binaan BCA, yaitu Desa Wisata Taro (Bali), Wisata Wayang Dusun Pucung Wukirsari (DIY), dan Desa Wisata Kampung Prai Ijing/Tebara (NTT), ikut serta dalam pameran yang berlangsung 3-5 Maret 2026 di Berlin ExpoCenter City. Booth mereka bertajuk “Tourism Villages by Bakti BCA” menjadi bagian dari Paviliun Indonesia yang dikelola oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Partisipasi ini merupakan langkah strategis untuk membuka peluang lebih luas bagi desa-desa wisata Indonesia. Dengan menghadirkan pengalaman wisata yang autentik dan berbasis budaya lokal, Desa Bakti BCA ingin menunjukkan bahwa destinasi mereka layak bersaing di kancah internasional. Pesan yang disampaikan bukan sekadar promosi, tetapi juga upaya nyata untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di komunitas lokal.
Menjangkau Pasar Global Lewat ITB Berlin
ITB Berlin adalah salah satu pameran pariwisata terbesar dan tertua di dunia. Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1966, ajang ini telah menjadi tempat berkumpulnya pelaku industri wisata dari berbagai penjuru dunia. Dengan peserta dari 159 negara, termasuk badan pariwisata nasional, maskapai, hotel, agen perjalanan, hingga platform digital, pameran ini menjadi jembatan penting antara penyedia destinasi dan calon pengunjung global.
Dalam edisi 2026 ini, Desa Bakti BCA mengusung tema “Discover #DesaBaktiBCA” untuk menarik perhatian wisatawan mancanegara. Booth mereka menampilkan berbagai paket wisata yang dirancang khusus untuk memenuhi ekspektasi turis internasional, namun tetap mempertahankan nilai-nilai lokal yang khas.
1. Persiapan Sebelum Pameran
Sebelum mengikuti ITB Berlin, delegasi Desa Bakti BCA menjalani serangkaian persiapan yang matang. Mulai dari pelatihan bahasa Inggris dasar hingga simulasi interaksi dengan calon mitra internasional. Tujuannya agar para delegasi bisa menyampaikan pesan dengan baik dan membangun kesan profesional di hadapan pengunjung pameran.
2. Penyusunan Paket Wisata Khusus Pasar Internasional
Desa Bakti BCA menyusun paket wisata yang disesuaikan dengan minat dan kebutuhan wisatawan mancanegara. Paket-paket ini mencakup akomodasi, pengalaman budaya, kuliner lokal, hingga aktivitas berbasis alam. Setiap paket dirancang untuk memberikan pengalaman yang unik dan berkesan.
3. Kolaborasi dengan Paviliun Indonesia
Sebagai bagian dari Paviliun Indonesia, Desa Bakti BCA mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pariwisata. Kolaborasi ini memungkinkan mereka untuk tampil lebih profesional dan menjangkau audiens yang lebih luas melalui jaringan pemerintah dan mitra internasional.
Paket Wisata yang Ditawarkan
Desa Bakti BCA tidak hanya membawa tiga delegasi utama, tetapi juga menampilkan delapan destinasi wisata lainnya. Setiap desa memiliki daya tarik unik yang disesuaikan dengan karakteristik lokal.
Berikut adalah daftar desa dan keunikan yang mereka tawarkan:
| No | Desa Wisata | Lokasi | Keunikan Utama |
|---|---|---|---|
| 1 | Desa Wisata Taro | Bali | Tradisi Subak dan seni pertanian |
| 2 | Wisata Wayang Dusun Pucung | Yogyakarta | Pertunjukan wayang kulit tradisional |
| 3 | Kampung Prai Ijing/Tebara | NTT | Wisata adat dan kearifan lokal |
| 4 | Desa Wisata Hijau Bilebante | NTB | Wisata hijau dan konservasi alam |
| 5 | Desa Wisata Dayun | Riau | Wisata sejarah dan budaya Melayu |
| 6 | Desa Wisata Pulau Derawan | Kalimantan Timur | Wisata alam bawah laut dan darat |
Dampak Positif dari Partisipasi Sebelumnya
Pada ITB Berlin 2025, Desa Bakti BCA berhasil menjalin hubungan dengan 96 agen perjalanan sebagai calon mitra. Dari kerja sama ini, hampir 300 wisatawan mancanegara berkunjung ke desa-desa binaan BCA, yang berkontribusi terhadap pendapatan langsung sebesar Rp536 juta. Angka ini menunjukkan bahwa partisipasi di pameran internasional memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi desa.
Peran BCA dalam Pengembangan Desa Wisata
BCA melalui program Bakti BCA terus berkomitmen untuk mengembangkan potensi desa wisata di Indonesia. Dengan pendekatan yang mengedepankan nilai bersama (creating shared value), BCA tidak hanya membantu desa meningkatkan pendapatan, tetapi juga membangun kapasitas lokal agar bisa bersaing secara global.
Dalam pernyataan resmi, Direktur BCA Antonius Widodo Mulyono menyampaikan bahwa partisipasi di ITB Berlin merupakan bagian dari strategi jangka panjang BCA untuk memperkuat ekosistem pariwisata Indonesia. Dengan memberikan pelatihan, akses pasar, dan pendampingan, BCA ingin desa-desa binaannya bisa mandiri dan berkelanjutan.
Sinergi dengan Kementerian Pariwisata
Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, menyambut baik kolaborasi ini. Menurutnya, kemitraan antara BCA dan desa wisata adalah contoh nyata bagaimana sektor swasta bisa berperan dalam memajukan pariwisata nasional. Dengan dukungan teknologi, pelatihan, dan akses pasar, desa wisata Indonesia bisa tampil lebih percaya diri di panggung global.
Kementerian Pariwisata juga berkomitmen untuk terus memfasilitasi program-program serupa agar lebih banyak desa bisa menjangkau pasar internasional. Kolaborasi dengan BCA diharapkan bisa menjadi model yang bisa direplikasi di daerah lain.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Meskipun partisipasi di ITB Berlin membawa hasil positif, tantangan tetap ada. Persaingan di pasar internasional sangat ketat, dan desa wisata harus terus meningkatkan kualitas layanan serta infrastruktur. Selain itu, adaptasi terhadap tren wisata baru seperti sustainable tourism dan digital experience juga menjadi hal yang harus diperhatikan.
Namun, peluangnya sangat besar. Wisatawan mancanegara semakin tertarik pada pengalaman autentik dan berbasis komunitas. Desa wisata Indonesia, dengan kekayaan budaya dan alamnya, memiliki potensi luar biasa untuk memenuhi permintaan ini.
Kesimpulan
Partisipasi Desa Bakti BCA di ITB Berlin 2026 bukan sekadar pameran, tetapi langkah konkret dalam memperkenalkan keindahan dan keunikan desa Indonesia ke panggung global. Dengan pendekatan yang holistik dan kolaboratif, BCA dan mitranya terus membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di desa-desa wisata.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersumber dari data resmi yang dirilis pada Maret 2026. Angka dan detail bisa berubah seiring perkembangan situasi dan kondisi di lapangan.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.
