Beranda » Pasar Modal » Analisis Kiwoom Sekuritas memprediksi IHSG berisiko merosot menembus level 7000 di 2026

Analisis Kiwoom Sekuritas memprediksi IHSG berisiko merosot menembus level 7000 di 2026

Harga Saham Gabungan (IHSG) kini berada dalam fase krusial yang menuntut kewaspadaan tinggi dari pelaku pasar. Ketidakpastian geopolitik global, terutama eskalasi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, menjadi katalis utama yang menekan performa bursa saham domestik.

Sentimen negatif ini diperparah dengan lonjakan dan penguatan mata uang dollar AS yang terus mendominasi pasar keuangan. Kondisi ini menciptakan tekanan jual yang cukup masif, sehingga pergerakan indeks cenderung volatil dan sulit diprediksi dalam jangka pendek.

Dinamika Pasar Global dan Tekanan Geopolitik

Pasar saham Amerika Serikat baru saja mencatatkan pelemahan tajam pada perdagangan Kamis (26/3). Indeks Nasdaq menjadi salah satu yang terdampak cukup dalam dengan koreksi sebesar 2,4 persen, sekaligus mengonfirmasi pelemahan kumulatif sebesar 10,6 persen dari level puncaknya.

Pergerakan pasar saat ini menunjukkan pola jungkat-jungkit yang dipicu oleh perubahan berita harian terkait konflik Iran dan Amerika Serikat. Investor menjadi sangat sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik, terlebih dengan kenaikan yield US Treasury sebesar 10 basis poin yang turut menekan valuasi ekuitas secara keseluruhan.

Risiko penurunan indeks yang lebih dalam tetap terbuka lebar selama mentah bertahan di atas level US$ 100 per barel. Selain itu, status dollar AS sebagai aset safe haven semakin menguat di tengah guncangan energi dan ekspektasi yang lebih tinggi, sementara harga emas justru mengalami pelemahan sebesar 2,8 persen.

Berikut adalah ringkasan faktor utama yang mempengaruhi volatilitas pasar saat ini:

  • Ketidakpastian negosiasi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.
  • Lonjakan harga minyak mentah dunia yang bertahan di level tinggi.
  • Kenaikan yield US Treasury yang menekan daya tarik saham.
  • Penguatan dollar AS yang memicu arus keluar modal asing.
  • Kekhawatiran akan krisis energi global akibat penutupan Selat Hormuz.
Baca Juga:  IHSG Tunjukkan Penguatan 0,8 Persen di Awal Sesi Perdagangan Hari Rabu Tahun 2026 Ini

Proyeksi IHSG dan Batas Psikologis

IHSG sebelumnya ditutup melemah 1,89 persen ke level 7.163 dengan seluruh sektor berada di zona merah. Sektor energi memimpin pelemahan dengan koreksi 2,91 persen, seiring dengan volatilitas harga minyak yang terus membayangi kinerja emiten di sektor tersebut.

Dampak dari penutupan Selat Hormuz oleh Iran diperkirakan akan meningkatkan tekanan inflasi global secara signifikan. Risiko resesi kini membayangi berbagai negara, dengan dampak yang diprediksi menyebar dari Asia ke Eropa pada pertengahan April, serta merambah ke Amerika Serikat pada akhir April hingga Mei mendatang.

Situasi ini diperburuk dengan nilai tukar yang terdesak hingga level Rp 17.000 per dollar AS. Kondisi tersebut memicu aksi jual asing pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, , dan BBNI yang selama ini menjadi penopang utama indeks.

Tabel di bawah ini merangkum kondisi teknikal dan proyeksi pergerakan IHSG berdasarkan analisis Kiwoom Sekuritas:

Indikator Posisi / Level
Penutupan Terakhir 7.163
Resistance Pertama (MA10) 7.300
Support Psikologis 7.060 – 7.000
Batas Bawah (Previous Bottom) 6.920

Setelah gagal menembus level resistance di 7.300, pasar disarankan untuk tetap mengambil posisi wait and see. IHSG saat ini masih berada dalam fase bottoming yang rentan terhadap sentimen negatif lanjutan.

Jika pemerintah tidak segera mengambil langkah penanganan yang gesit terhadap krisis energi dan pelemahan rupiah, indeks berpotensi menguji kembali level support psikologis di kisaran 7.060 hingga 7.000. Bahkan, risiko penurunan lebih dalam menuju level 6.920 tetap terbuka jika tekanan jual tidak mereda.

Ide Trading dan Strategi Selektif

Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, pemilihan saham harus dilakukan dengan sangat selektif. Fokus utama sebaiknya diarahkan pada emiten dengan fundamental kuat yang mampu bertahan di tengah gejolak ekonomi makro.

Baca Juga:  Analisis Kunci Laporan Keuangan PFE dan MRK Tahun 2026 untuk Strategi Trading Saham

Berikut adalah tahapan ide yang dapat diperhatikan untuk perdagangan hari ini:

  1. APLN: Entry buy di rentang 161 hingga 167, target price 174 hingga 181, support 158 hingga 161, dan cut loss di 156.
  2. EXCL: Entry buy di rentang 2.840 hingga 2.910, target price 3.000 hingga 3.090, support 2.800 hingga 2.840, dan cut loss di 2.780.
  3. JPFA: Entry buy di rentang 2.400 hingga 2.490, target price 2.590 hingga 2.690, support 2.360 hingga 2.400, dan cut loss di 2.340.
  4. MIKA: Entry buy di rentang 2.090 hingga 2.140, target price 2.210 hingga 2.270, support 2.060 hingga 2.090, dan cut loss di 2.040.

Strategi trading di atas disusun berdasarkan analisis teknikal jangka pendek. Perlu diingat bahwa dinamika pasar dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada rilis data ekonomi terbaru dan perkembangan situasi geopolitik di .

Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pelaku pasar. Disarankan untuk selalu melakukan riset mandiri dan menyesuaikan strategi dengan profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan transaksi di bursa.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Segala bentuk keputusan investasi memiliki risiko, dan kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di . Data yang disajikan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar terkini.

Muhammad Rizal Veto
Reporter at Desa Karangbendo

Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.