Beranda » Pasar Modal » Emas Turun Mendekati Level US$ 4.300, Keuntungan Investasi Tahun Ini Tinggal 2 Persen Saja

Emas Turun Mendekati Level US$ 4.300, Keuntungan Investasi Tahun Ini Tinggal 2 Persen Saja

Harga emas terjun bebas di awal pekan ini, mencatatkan penurunan paling dalam sejak tahun 1983. Pasar emas yang biasanya diandalkan sebagai aset aman justru dibuat terkoyak oleh gejolak geopolitik dan tekanan dari lonjakan suku global. Di tengah situasi ketegangan antara AS dan Iran, investor tampaknya lebih memilih aset berimbang daripada menimbun logam mulia yang tidak memberikan dividen.

Pergerakan harga emas spot sempat menyentuh level terendah di US$ 4.320 per troi ons sebelum akhirnya memantul ke kisaran US$ 4.402. Meski begitu, kenaikan tahun ini tinggal menyisakan sekitar 2 persen saja. Angka ini jauh dari performa gemilang yang sempat dibayangkan di awal tahun, terutama setelah emas ditutup pada US$ 4.319,37 per troi ons di akhir 2025.

Penyebab Turunnya Harga Emas

1. Lonjakan Harga Minyak dan Ancaman Inflasi

Ketegangan antara AS dan Iran berimbas pada lonjakan mentah. Lonjakan ini memicu kekhawatiran akan datangnya gelombang inflasi baru. Inflasi yang tinggi membuat seperti Federal Reserve cenderung menahan diri untuk menurunkan suku bunga. Padahal, suku bunga rendah adalah salah satu faktor utama yang mendongkrak permintaan terhadap emas.

2. Emas Tak Memberi Imbal Hasil

Emas dikenal sebagai instrumen investasi yang tidak memberikan bunga atau dividen. Saat suku bunga naik, investor cenderung beralih ke instrumen berimbang seperti obligasi atau saham. Ini membuat permintaan emas melemah, terutama di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga global yang masih tinggi.

3. Aksi Jual Paksa Akibat Koreksi Pasar

Sejak konflik di Timur Tengah memanas pada akhir 2026, juga ikut terkoreksi. Investor yang mengalami kerugian di portofolio saham dan aset lainnya terpaksa menjual emas untuk menutupi kerugian. Aksi jual ini memperparah tekanan terhadap harga logam mulia.

Baca Juga:  Indeks Harga Saham Gabungan Diprediksi Stabil, Simak Rekomendasi Emiten BRI Sekuritas Hari Ini Selasa 17 Maret 2023

Pergerakan Emas dalam Tiga Minggu Terakhir

Sejak 28 Februari 2026, harga emas mengalami penurunan berturut-turut selama delapan sesi perdagangan. Ini merupakan tren bearish terpanjang dalam beberapa tahun terakhir. Performa mingguan emas bahkan mencatatkan penurunan paling dalam sejak 1983, menunjukkan betapa besarnya tekanan yang dihadapi logam mulia ini.

Ultimatum Trump dan Dampaknya pada Pasar

Akhir pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum kepada Iran. Ia memberikan waktu dua hari kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listriknya. Iran membalas dengan ancaman akan menutup jalur laut strategis itu dan menyerang infrastruktur energi serta jika fasilitasnya diserang.

Situasi ini menciptakan volatilitas tinggi di pasar keuangan. Namun, ancaman militer juga bisa memicu lonjakan permintaan emas sebagai safe haven. Tergantung bagaimana eskalasi konflik berlanjut, emas bisa saja kembali menguat dalam jangka pendek.

Proyeksi Harga Emas ke Depan

Kyle Rodda, analis dari Capital.com Inc., menyatakan bahwa emas memiliki potensi untuk bangkit kembali dalam jangka pendek. Menurutnya, banyak hal akan tergantung pada apakah Trump benar-benar menindaklanjuti ancamannya atau hanya bermain retorika politik.

Namun, tetap saja, kondisi makroekonomi global yang saat ini tidak bersahabat bagi emas menjadi tantangan tersendiri. Investor pun harus waspada terhadap fluktuasi harga yang bisa terjadi kapan saja.

Perbandingan Harga Emas di Beberapa Pasar Global

Berikut adalah perbandingan harga emas di beberapa pasar utama pada Senin (23/3) pagi:

Pasar Harga Emas per Troi Ons
(Global) US$ 4.402
Emas London US$ 4.398
Emas New York US$ 4.405
Emas Shanghai ¥ 482.500 (sekitar US$ 6.680)
Emas Dubai AED 16.250 (sekitar US$ 4.425)

Catatan: Harga bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar dan fluktuasi nilai tukar mata uang.

Tips Investasi Emas di Tengah Volatilitas Tinggi

1. Pantau Perkembangan Geopolitik

Ketegangan internasional bisa memicu lonjakan harga emas dalam hitungan jam. Investor disarankan untuk selalu mengikuti perkembangan berita terkini, terutama dari kawasan Timur Tengah.

Baca Juga:  Cara Efektif Mengamankan 5 Aset Investasi Melalui Kontrak Futures Sepanjang Tahun 2026

2. Diversifikasi Portofolio

Jangan terlalu bergantung pada satu aset saja. Emas memang aman, tapi tidak selamanya. Kombinasikan dengan instrumen lain seperti obligasi, saham, atau reksa agar risiko lebih terdistribusi.

3. Gunakan Strategi Dollar-Cost Averaging

Alih-alih membeli emas dalam jumlah besar sekaligus, lebih baik membeli secara berkala dalam jumlah kecil. Ini mengurangi risiko membeli di harga puncak.

4. Waspadai Biaya Penyimpanan

Berbeda dengan saham atau reksa dana, emas fisik memerlukan biaya penyimpanan. Pastikan memilih penyedia layanan yang terpercaya dan biaya penyimpanannya transparan.

Kapan Waktu Terbaik untuk Membeli Emas?

Tidak ada waktu pasti untuk membeli emas. Namun, beberapa kondisi berikut bisa menjadi sinyal:

  • Ketika suku bunga mulai turun
  • Saat inflasi mulai menggerogoti nilai mata uang
  • Ketika ketidakpastian geopolitik meningkat
  • Jika pasar saham mengalami koreksi dalam jangka pendek

Disclaimer

Harga emas sangat rentan terhadap perubahan kondisi makroekonomi, kebijakan moneter, dan situasi . Data yang disajikan bersifat referensi dan bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Investasi emas juga mengandung risiko, termasuk risiko fluktuasi harga dan likuiditas. Pastikan untuk berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum membuat keputusan investasi.

Nurkasmini Nikmawati
Reporter at Desa Karangbendo

Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.