Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan di awal pekan ini. Sentimen negatif datang dari luar negeri, khususnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Investor tampak lebih waspada, memilih mundur dulu dari aset berisiko dan beralih ke instrumen safe haven.
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG terperosok cukup dalam, mencatat penurunan 2,66% ke level 8.016,8. Angka itu mencerminkan keresahan pasar terhadap eskalasi konflik antara AS-Israel dan Iran. Dampaknya tidak hanya terbatas pada kawasan, tapi juga menyebar ke pasar global, termasuk pasar saham Indonesia.
Geopolitik Timur Tengah dan Dampaknya ke Pasar Modal
Tidak butuh waktu lama bagi investor untuk merespons ketegangan di Timur Tengah. Begitu kabar konflik semakin memanas, aliran dana langsung bergerak keluar dari saham dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman. Ini adalah pola yang umum terjadi saat situasi geopolitik tidak menentu.
Lonjakan harga minyak mentah juga menjadi pemicu tambahan. Kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi global, yang pada akhirnya bisa memaksa bank sentral untuk mengetat kebijakan moneter. Di tengah situasi seperti ini, pasar saham biasanya menjadi korban pertama.
Meski begitu, bukan berarti semua saham ikut terpuruk. Saham sektor energi dan emas justru menunjukkan performa positif. Lonjakan harga komoditas memberi dampak langsung pada kinerja emiten di bidang tersebut. Ini menjadi salah satu faktor yang mencegah IHSG jatuh terlalu dalam.
Data Domestik Masih Menopang Sentimen
Di tengah gejolak global, kondisi dalam negeri tergolong stabil. Inflasi Februari tercatat di angka 4,76% secara tahunan (YoY), masih dalam batas kewajaran Bank Indonesia. Sementara neraca perdagangan Januari mencatat surplus sebesar US$960 juta, menandai berlanjutnya surplus selama 69 bulan berturut-turut.
Stabilitas data domestik ini menjadi penyangga utama bagi IHSG. Meski tekanan dari luar masih terasa, fundamental ekonomi dalam negeri belum menunjukkan tanda-tanda kritis. Namun, selama ketegangan geopolitik belum mereda, tekanan terhadap pasar saham diperkirakan masih akan berlangsung.
Proyeksi IHSG Hari Ini
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, memperkirakan IHSG akan kembali menguji level support. Area support diperkirakan berada di kisaran 7.940 hingga 7.820. Sementara resistance berada di level 8.200 hingga 8.350. Investor disarankan untuk tetap waspada dan menghindari overtrading di tengah volatilitas yang tinggi.
Rekomendasi Saham Hari Ini
Berikut rekomendasi saham dari BRI Danareksa Sekuritas untuk perdagangan hari ini. Saham-saham ini dipilih berdasarkan analisis teknikal dan kondisi pasar saat ini.
1. MEDC — Buy (Day Trade)
Saham MEDC masih menunjukkan tren bullish. Pada chart 1 jam, terlihat lonjakan volume dan harga di akhir sesi perdagangan kemarin. Ini menjadi sinyal kuat bahwa momentum penguatan masih berlanjut.
- Buy: 1.970–1.990
- Resistance 1: 2.060
- Resistance 2: 2.130
- Stop loss: di bawah 1.920
2. APEX — Buy (Day Trade)
APEX membentuk pola cup and handle dengan neckline di level 240. Selama harga bertahan di atas level tersebut, peluang penguatan masih terbuka. Pola ini sering dianggap sebagai awal dari tren bullish yang kuat.
- Buy: 248–258
- Resistance 1: 272
- Resistance 2: 306
- Stop loss: di bawah 240
3. DOID — Buy (Day Trade)
DOID berhasil rebound dari support penting di kisaran 288–298. Volume yang meningkat menunjukkan adanya minat beli yang cukup besar. Potensi penguatan lanjutan masih terbuka dengan resistance terdekat di level 328–348.
- Buy: 304–318
- Resistance 1: 328
- Resistance 2: 348
- Stop loss: di bawah 298
4. WIRG — Sell
Berbeda dengan saham sebelumnya, WIRG bergerak dalam tren bearish. Candle bearish marubozu yang terbentuk menandakan tekanan jual masih kuat. Saham ini berpotensi terus turun menuju support berikutnya di level 80–74.
- Last price: 85
- Next support: 80
Strategi Investasi di Tengah Volatilitas
Investor sebaiknya tidak terjebak emosi saat pasar sedang tidak menentu. Volatilitas yang tinggi bisa memberi peluang, tapi juga risiko yang besar. Penting untuk tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko dan tidak terlalu agresif dalam mengambil posisi.
Pemilihan saham harus didasarkan pada analisis yang matang, bukan spekulasi semata. Pasar saat ini sangat sensitif terhadap berita, baik domestik maupun global. Investor yang tidak siap secara mental dan finansial sebaiknya mundur dulu dari pasar.
Disclaimer
Proyeksi dan rekomendasi di atas bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan kondisi pasar secara global. Data dan angka yang digunakan merupakan estimasi berdasarkan analisis teknikal dan fundamental terkini. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.

