PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) melaporkan perolehan laba bersih tahun berjalan konsolidasian sebesar Rp4,0 triliun untuk tahun buku 2025. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 14 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya secara tahun ke tahun atau year on year, setelah memperhitungkan dampak dari implementasi PSAK 338.
Direktur Utama Danamon, Daisuke Ejima, menyatakan bahwa sepanjang tahun 2025 perusahaan telah mengimplementasikan prioritas strategis dengan baik. Hal ini menghasilkan pertumbuhan pada sisi intermediasi maupun profitabilitas dengan kualitas aset yang tetap terjaga. Menurutnya, capaian ini didukung oleh kepercayaan nasabah dan pemangku kepentingan serta kontribusi seluruh karyawan dalam semangat Satu Grup Finansial.
Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh operasional perusahaan yang mencatatkan pendapatan konsolidasian sebesar Rp21,6 triliun, atau naik 5 persen secara tahunan. Selain itu, Danamon berhasil menurunkan biaya kredit secara konsisten sebesar 10 persen year on year. Dalam aspek rasio rentabilitas, bank anggota MUFG ini membukukan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) pada level 7,7 persen pada akhir 2025.
Dari sisi fungsi intermediasi, Danamon mencatatkan total kredit dan trade finance konsolidasian sebesar Rp212,7 triliun per 31 Desember 2025, yang berarti tumbuh 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh lini bisnis Enterprise Banking and Financial Institution yang naik 14 persen, Consumer Banking sebesar 10 persen, SME Banking 7 persen, serta kontribusi lini bisnis Adira Finance sebesar 2 persen.
Pada sektor penghimpunan dana, total simpanan pihak ketiga (DPK) konsolidasian mencapai Rp176,9 triliun atau tumbuh 16 persen secara tahun ke tahun. Adapun simpanan pada instrumen tabungan dan giro atau current account savings account (CASA) mengalami kenaikan 18 persen menjadi Rp75,2 triliun.
Manajemen Danamon juga melaporkan bahwa kualitas aset tetap terjaga dengan baik. Rasio cakupan loan at risk (LAR) meningkat 560 basis poin menjadi 54,9 persen, sementara rasio LAR secara keseluruhan berada pada posisi 8,3 persen. Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) bruto tercatat membaik 20 basis poin menjadi 1,7 persen dengan rasio cakupan NPL mencapai 280,7 persen.
Dalam hal ketahanan modal, Danamon memiliki tingkat likuiditas yang kuat dengan rasio cakupan likuiditas (LCR) sebesar 158,9 persen. Angka ini lebih tinggi 14,1 poin persentase jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Memasuki tahun 2026, Danamon berkomitmen untuk terus menjadi penyedia solusi finansial dan berkontribusi lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Disclaimer: Seluruh data keuangan dalam laporan ini bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai dengan hasil audit final atau penyesuaian regulasi perbankan yang berlaku. Proyeksi dan target perusahaan bergantung pada kondisi ekonomi makro serta kinerja pasar modal di masa mendatang. Pengguna informasi diharapkan melakukan verifikasi mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.

