Penggunaan gawai pada anak kerap memicu perdebatan di kalangan orang tua, terutama soal efektivitas antara menonton video atau bermain game bagi perkembangan kognitif. Akademisi Dr. W. Linda Yuhanna, M.Si. dalam dialog bersama Pro2 RRI Madiun mengungkapkan bahwa bermain game justru lebih efektif melatih kemampuan berpikir kritis anak dibandingkan sekadar menonton video.
Kedua aktivitas digital tersebut ternyata memiliki karakteristik interaksi yang sangat berbeda terhadap perkembangan otak anak. Simak penjelasan lengkap dari desakarangbendo.id berikut ini mengenai pandangan akademisi terkait dampak game dan video bagi anak.
Game Menuntut Proses Berpikir Aktif dan Pemecahan Masalah
Bermain game dinilai lebih menantang karena menuntut anak untuk memecahkan masalah dan mengejar target level tertentu.
“Memang kalau bermain game itu kan juga terasa ya otak kita, jadi mereka harus memecahkan sesuatu, harus naik level dan lain sebagainya,” ungkap Dr. Linda dalam dialog tersebut.
Aktivitas ini melibatkan proses berpikir aktif melalui penyelesaian berbagai tantangan yang muncul di dalam permainan. Mekanisme problem solving dalam game secara tidak langsung mengasah kemampuan kognitif anak untuk menganalisis situasi dan mengambil keputusan secara cepat.
Lebih lanjut, setiap level dalam game dirancang dengan tingkat kesulitan yang bertahap. Kondisi ini memaksa otak anak untuk terus beradaptasi dan mengembangkan strategi baru demi menyelesaikan setiap tantangan.
Menonton Video Bersifat Komunikasi Satu Arah yang Pasif
Sebaliknya, menonton YouTube cenderung bersifat komunikasi satu arah yang lebih pasif bagi penggunanya. Anak hanya menikmati konten tanpa adanya stimulasi untuk memecahkan tantangan secara langsung.
Hal ini menyebabkan tingkat berpikir kritis anak tidak terasah setajam saat berhadapan dengan permainan interaktif. Otak cenderung berada dalam mode penerima informasi tanpa perlu mengolah atau merespons secara aktif.
Berikut perbandingan karakteristik kedua aktivitas digital tersebut berdasarkan penjelasan Dr. W. Linda Yuhanna.
| Aspek | Bermain Game | Menonton Video |
|---|---|---|
| Jenis Interaksi | Dua arah (aktif) | Satu arah (pasif) |
| Stimulasi Otak | Tinggi, menuntut problem solving | Rendah, hanya menerima informasi |
| Berpikir Kritis | Terasah melalui tantangan level | Tidak terstimulasi secara langsung |
| Pengambilan Keputusan | Dilatih secara terus-menerus | Tidak ada elemen keputusan |
| Risiko Ketergantungan | Tinggi jika tanpa batasan waktu | Tinggi jika tanpa pengawasan konten |
Tabel di atas menunjukkan perbedaan mendasar antara bermain game dan menonton video dari sisi stimulasi kognitif anak.
Batasan Waktu dan Pengawasan Orang Tua Jadi Kunci Utama
Meski bermain game dinilai lebih bermanfaat secara kognitif, Dr. W. Linda Yuhanna menegaskan bahwa manfaat tersebut hanya optimal jika durasi bermain dibatasi secara ketat. Kedua aktivitas digital tetap diperbolehkan asalkan memiliki proporsi waktu yang tepat.
“Game tidak apa-apa diberikan dengan timing yang pas, misalnya hanya setengah jam agar anak tertarget memecahkan sesuatu,” tutur Dr. Linda.
Batasan waktu 30 menit menjadi instrumen penting untuk mencegah ketergantungan pada perangkat digital. Pengawasan orang tua juga menjadi kunci utama agar aktivitas menatap layar tidak mengganggu waktu belajar dan ibadah.
Terkait hal ini, kedisiplinan dalam mengatur jadwal akan membentuk pola kebiasaan yang sehat bagi anak di masa depan. Dengan kontrol yang baik, teknologi akan menjadi alat bantu belajar alih-alih menjadi beban bagi pertumbuhan anak.
Keseimbangan Digital dan Aktivitas Fisik Tetap Jadi Prioritas
Orang tua disarankan untuk memastikan penggunaan gadget tidak dilakukan setiap saat dan di mana saja. Pendampingan dalam memilih konten yang sesuai dengan usia dan kebutuhan perkembangan anak juga sangat diperlukan.
Keseimbangan antara dunia digital dan aktivitas fisik tetap menjadi prioritas utama dalam pola asuh modern, sebagaimana disampaikan Dr. W. Linda Yuhanna melalui dialog di Pro2 RRI Madiun tersebut.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.
