Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali sesi perdagangan Kamis pagi dengan koreksi tipis sebesar 0,2 persen. Tekanan jual pada beberapa saham berkapitalisasi besar menjadi pemicu utama pelemahan indeks di awal pembukaan pasar.
Saham emiten seperti BREN dan DSSA terpantau masih melanjutkan tren penurunan dari sesi sebelumnya. Kondisi ini memberikan sinyal kehati-hatian bagi pelaku pasar yang tengah memantau pergerakan harga di tengah fluktuasi pasar modal domestik.
Dinamika Pasar dan Valuasi Saham LQ45
Pergerakan IHSG yang cenderung melemah pada pagi hari ini tidak lepas dari aksi ambil untung yang dilakukan investor setelah reli pada beberapa hari sebelumnya. Fokus pasar kini tertuju pada valuasi saham-saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45.
Analisis terhadap Price to Earnings Ratio (PER) menjadi salah satu instrumen penting untuk mengukur apakah sebuah saham masih tergolong murah atau sudah terlalu mahal. Berikut adalah daftar saham LQ45 dengan valuasi PER terendah dan tertinggi per 23 Februari 2026.
1. Daftar Saham LQ45 dengan PER Terendah
Saham dengan PER rendah sering kali dianggap sebagai peluang bagi investor yang mencari nilai intrinsik perusahaan dengan harga diskon. Berikut adalah rincian saham LQ45 yang mencatatkan rasio PER paling rendah saat ini.
| Kode Saham | Sektor | PER (Kali) |
|---|---|---|
| ADRO | Energi | 4,2 |
| PTBA | Energi | 4,8 |
| ITMG | Energi | 5,1 |
| BMRI | Keuangan | 8,5 |
| BBNI | Keuangan | 8,9 |
2. Daftar Saham LQ45 dengan PER Tertinggi
Di sisi lain, saham dengan PER tinggi biasanya mencerminkan ekspektasi pertumbuhan laba yang agresif dari pasar di masa depan. Berikut adalah daftar saham LQ45 dengan rasio PER tertinggi yang mencerminkan optimisme investor terhadap prospek bisnis perusahaan tersebut.
| Kode Saham | Sektor | PER (Kali) |
|---|---|---|
| BREN | Energi Baru | 145,2 |
| DSSA | Energi | 120,5 |
| GOTO | Teknologi | 98,4 |
| ARTO | Keuangan | 85,2 |
| BRIS | Keuangan | 45,6 |
Memahami perbedaan valuasi di atas membantu dalam memetakan strategi investasi yang lebih terukur. Perlu diingat bahwa PER bukanlah satu-satunya indikator penentu keberhasilan investasi, melainkan bagian dari analisis fundamental yang lebih luas.
Faktor Pemicu Koreksi IHSG
Pelemahan IHSG pada Kamis pagi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan sentimen global yang sedang berkembang. Beberapa poin di bawah ini merangkum alasan utama di balik pergerakan pasar yang cenderung melambat.
1. Aksi Profit Taking
Investor cenderung melakukan penjualan setelah IHSG sempat menyentuh level psikologis tertentu dalam beberapa hari terakhir. Langkah ini merupakan hal wajar dalam siklus pasar untuk mengamankan keuntungan jangka pendek.
2. Tekanan pada Saham Big Caps
Saham dengan bobot besar seperti BREN dan DSSA mengalami tekanan jual yang cukup signifikan. Mengingat kapitalisasi pasar yang besar, pergerakan harga saham-saham ini memiliki dampak langsung terhadap arah indeks secara keseluruhan.
3. Sentimen Suku Bunga Global
Ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral global masih membayangi pergerakan bursa saham domestik. Investor memilih untuk menahan diri sambil menunggu rilis data ekonomi terbaru yang akan memberikan arah lebih jelas bagi pasar.
Strategi Menghadapi Volatilitas Pasar
Menghadapi kondisi pasar yang sedang terkoreksi memerlukan ketenangan dan perencanaan yang matang. Berikut adalah langkah-langkah praktis dalam mengelola portofolio saat indeks sedang mengalami tekanan.
1. Melakukan Diversifikasi Aset
Jangan menaruh seluruh modal pada satu sektor saja, terutama sektor yang sedang mengalami volatilitas tinggi. Membagi investasi ke sektor defensif dapat membantu menjaga stabilitas portofolio saat pasar sedang tidak menentu.
2. Fokus pada Fundamental Perusahaan
Koreksi pasar sering kali menjadi momen yang tepat untuk mengakumulasi saham perusahaan dengan fundamental kuat. Periksa kembali laporan keuangan, pertumbuhan laba, dan posisi utang perusahaan sebelum memutuskan untuk menambah posisi.
3. Menyiapkan Dana Cadangan
Memiliki kas yang cukup memberikan fleksibilitas untuk masuk ke pasar saat harga saham sedang terkoreksi tajam. Strategi ini memungkinkan pembelian aset berkualitas dengan harga yang lebih kompetitif dibandingkan saat pasar sedang bullish.
4. Menentukan Batas Kerugian
Penting untuk menetapkan stop loss atau batas toleransi risiko sebelum melakukan transaksi. Langkah ini berfungsi sebagai pelindung modal agar kerugian tidak melebar jika pergerakan harga saham tidak sesuai dengan ekspektasi awal.
Analisis Sektor Energi dan Teknologi
Sektor energi dan teknologi saat ini menjadi sorotan utama karena fluktuasi harga yang cukup lebar. Saham-saham di sektor ini sering kali menjadi penggerak utama indeks, baik saat IHSG menguat maupun saat mengalami tekanan jual.
Perbandingan antara saham energi tradisional dengan perusahaan yang bergerak di bidang energi baru menunjukkan perbedaan valuasi yang sangat kontras. Hal ini mencerminkan preferensi investor yang berbeda antara mencari dividen stabil atau pertumbuhan jangka panjang.
Data yang disajikan dalam artikel ini bersifat informatif dan didasarkan pada kondisi pasar per 23 Februari 2026. Perlu diingat bahwa data pasar saham bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada sentimen pasar, kebijakan ekonomi, dan kinerja perusahaan.
Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor. Sangat disarankan untuk melakukan riset mandiri atau berkonsultasi dengan penasihat keuangan profesional sebelum mengambil keputusan transaksi saham apa pun.
Investasi saham mengandung risiko kehilangan modal. Pastikan untuk selalu memantau perkembangan berita ekonomi terkini agar strategi yang dijalankan tetap relevan dengan kondisi pasar yang sedang berlangsung.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.


