Beranda » Pasar Modal » Dampak Penutupan Jalur Selat Hormuz Tahun 2026 Terhadap Tren Pergerakan IHSG Hari Ini

Dampak Penutupan Jalur Selat Hormuz Tahun 2026 Terhadap Tren Pergerakan IHSG Hari Ini

(IHSG) diprediksi akan bergerak dalam rentang fluktuatif pada perdagangan awal pekan, Senin, 20 April 2026. Ketidakpastian global kembali menjadi bayang-bayang utama yang memengaruhi psikologi pelaku pasar di dalam negeri.

Situasi yang memanas di Selat Hormuz menjadi katalis utama perubahan sentimen investor. Kondisi ini memaksa para pelaku pasar untuk bersikap lebih hati-hati dalam menentukan posisi portofolio di tengah dinamika pasar yang berubah sangat cepat.

Gejolak Geopolitik dan Sentimen Global

Penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran menjadi pemicu utama kekhawatiran pasar global di awal pekan ini. Eskalasi konflik yang melibatkan penyitaan kapal kargo serta pengetatan blokade oleh telah membalikkan optimisme deeskalasi yang sempat muncul pada akhir pekan lalu.

Ketidakpastian semakin diperparah dengan adanya perpecahan internal di Iran antara pihak pemerintah sipil dan kelompok IRGC yang bertindak secara independen. Dinamika tersebut menciptakan risiko besar bagi stabilitas pasokan energi global yang berdampak langsung pada komoditas.

Lembaga Moneter Internasional (IMF) turut memberikan tekanan tambahan melalui revisi proyeksi pertumbuhan tahun 2026. Proyeksi pertumbuhan dipangkas menjadi 3,1 persen dari perkiraan sebelumnya di angka 3,3 persen.

Risiko resesi kini membayangi jika konflik berkepanjangan terus terjadi di wilayah strategis tersebut. global diprediksi akan mengalami kenaikan akibat lonjakan harga energi dan pangan yang tidak terelakkan.

Tekanan pada Rupiah dan Aksi Jual Asing

Pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp 17.165 per dolar AS menjadi faktor penekan bagi pasar saham domestik. Tekanan mata uang ini memicu aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.

Baca Juga:  Strategi Keluar Pasar 2026 dengan Optimasi Target Harga serta Metode Stop Loss Efektif

Investor asing terlihat mulai mengalihkan fokus portofolio ke sektor komoditas dan konglomerasi dengan kapitalisasi pasar jumbo. Strategi ini diambil sebagai langkah defensif di tengah pelemahan mata uang dan ketidakpastian pasar yang tinggi.

Data perdagangan mencatat IHSG sempat ditutup menguat 0,17 persen ke level 7.634 pada Jumat, 17 April 2026. Namun, penguatan tersebut dibayangi oleh sebesar Rp 931 miliar pada hari yang sama.

Secara akumulatif dalam sepekan, IHSG memang masih mencatatkan penguatan sebesar 1,78 persen. Meski demikian, total net sell asing di pasar reguler selama periode tersebut mencapai Rp 2,7 triliun.

Berikut adalah ringkasan pasar menjelang pembukaan perdagangan awal pekan:

Indikator Pasar Data Terkini
Penutupan IHSG (17/4) 7.634
Perubahan Harian +0,17%
Net Sell Asing (Harian) Rp 931 Miliar
Penguatan Mingguan +1,78%
Net Sell Asing (Mingguan) Rp 2,7 Triliun

Tabel di atas menunjukkan bahwa meskipun indeks masih berada di zona hijau secara mingguan, tekanan jual dari investor asing tetap menjadi perhatian serius. Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra bagi pelaku pasar domestik.

Proyeksi Teknis dan Strategi Investasi

Secara teknikal, terdapat potensi pembentukan pola bullish flag pada pergerakan IHSG. Namun, pola teknikal tersebut bisa saja terabaikan jika sentimen negatif dari berita global terus mendominasi pasar.

Pasar diprediksi akan bergerak fluktuatif dan berpotensi melakukan konsolidasi untuk menguji level support. Jika tekanan jual terus berlanjut, indeks berisiko menguji level support di 7.527 hingga ke level 7.410.

Saran utama bagi para pelaku pasar saat ini adalah menerapkan strategi wait and see. Menunggu kondisi pasar menjadi lebih jauh lebih bijak daripada mengambil keputusan terburu-buru di tengah volatilitas tinggi.

Baca Juga:  Potensi Kenaikan Terbatas IHSG di 31 Maret 2026 dan Daftar Pilihan Saham BNI Sekuritas

Bagi yang tetap ingin memantau pergerakan saham, berikut adalah beberapa ide trading yang bisa dicermati untuk sesi perdagangan hari ini:

  1. ASII: Entry buy di rentang 6.200 hingga 6.375, dengan target harga 6.575 sampai 6.775. Support berada di 6.125 hingga 6.200, sementara level cut loss ditetapkan pada 6.075.
  2. BREN: Entry buy di rentang 6.450 hingga 6.625, dengan target harga 6.825 sampai 7.025. Support berada di 6.375 hingga 6.450, sementara level cut loss ditetapkan pada 6.325.
  3. INET: Entry buy di rentang 332 hingga 342, dengan target harga 354 sampai 364. Support berada di 328 hingga 332, sementara level cut loss ditetapkan pada 324.
  4. NCKL: Entry buy di rentang 1.200 hingga 1.230, dengan target harga 1.270 sampai 1.305. Support berada di 1.180 hingga 1.200, sementara level cut loss ditetapkan pada 1.170.

Perlu ditekankan bahwa ide trading di atas bukanlah ajakan untuk melakukan pembelian atau penjualan saham tertentu. Setiap keputusan investasi harus disesuaikan dengan profil risiko serta analisis mandiri dari masing-masing pelaku pasar.

Disclaimer: Data dan informasi yang disajikan dalam artikel ini dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar yang dinamis. Segala bentuk keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pelaku pasar dan disarankan untuk selalu melakukan riset mendalam sebelum mengambil tindakan.

Nurkasmini Nikmawati
Reporter at Desa Karangbendo

Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.